Minggu, 07 Desember 2008

Teori Waktu Berputar Kembali



Keajaiban yang diciptakan alam dengan jelas dan pasti memberitahu kita, bahwa pada abad ke-20 yang baru saja berlalu, secara membingungkan terjadilah sesuatu yang tak habis dimengerti yaitu waktu berputar kembali. Secara teori, bahwa waktu berputar kembali, dan kembali ke masa lalu bukan tidak memungkinkan. Menurut teori Einstein, waktu dan ruang dapat mengalami perubahan dalam kecepatan cahaya.
Jadi, seandainya suatu benda terbang dengan kecepatan 300000 km/detik, maka ruang bisa di perpendek, dan waktu bisa diperlambat.


Quote:
Pada awal tahun 1994 silam, sebuah pesawat sipil Italia terbang di angkasa pantai Afrika. Tiba-tiba, pesawat lenyap dari layar radar di ruang kontrol.
Di saat petugas bandara di landa kecemasan, pesawat sipil itu muncul lagi di ruang udara semula, dan radar dapat melacak kembali sinyal pesawat tersebut. Terakhir, pesawat sipil ini berhasil mendarat dengan mulus di bandara wilayah Italia. Namun, awak pesawat dan 315 penumpangnya sama sekali tidak tahu bahwa mereka pernah lenyap.

Dengan perasaan bingung kapten pilot berkata :

“Pesawat kami tampak stabil setelah lepas landas dari Manila, dan tidak terjadi insiden apapun, namun, di luar dugaan petugas di ruang kontrol melaporkan kehilangan jejak pesawat, memang agak tidak normal”

Tetapi, kenyataannnya tidak dapat dibantah : ketika tiba di bandara, jam setiap penumpang terlambat 20 menit. Meskipun jarang tapi ada kejadian yang serupa.
Quote:
Menurut catatan arsip, pada 1970 silam juga pernah terjadi peristiwa serupa. Kala itu, sebuah pesawat penumpang jet 727 juga tanpa sebab yang jelas hilang selama 10 menit dalam penerbangannya ke bandara Internasional Miami, AS.

10 menit kemudian, pesawat tersebut muncul lagi di tempat semula, selanjutnya, pesawat tersebut tiba dengan selamat di tempat tujuan.
Seluruh penumpang di dalam pesawat tersebut tidak tahu apa yang telah terjadi, dan alasan yang akhirnya membuat mereka percaya adalah karena jam mereka masing-masing terlambat 10 menit. Atas fenomena ini, menurut para ahli satu-satunya penjelasan adalah : Dalam sesaat kehilangan itu, waktu berhenti tidak bergerak, atau dengan kata lain waktu berputar kembali.
Quote:
Uang Perak Modern Masuk ke Kuil

Tepat ketika pesawat penumpang Italia mengalami bahaya di udara pada tahun yang sama, dilaporkan bahwa kembali terjadi keajaiban waktu berputar kembali 4000 tahun di Mesir:
Sekeping uang perak modern yang belum di edarkan, terpendam di dasar sebuah Kuil Dewa Matahari.
Kala itu, sebuah tim arkeologi yang dibentuk oleh arkeolog Perancis, tiba di daerah aktivitas pertama manusia di tepi Sungai Nil untuk riset ilmiah.
Di sana mereka menemukan sebuah Kuil Dewa Matahari, dan hingga kini sudah 4000 tahun sejarahnya. Karena tak pernah dikunjungi manusia, kuil itu sudah lama runtuh, yang tersisa hanya puing-puing reruntuhan, sehingga tampak sunyi dan rongsok.
Ketika arkeolog menggali reruntuhan tersebut, di bawah sebuah tonggak batu kuno, mereka menemukan sekeping uang perak terkubur di bawah tanah.
Namun anehnya, itu bukan uang perak Mesir kuno, melainkan sekeping uang perak Amerika, yang lebih mengherankan lagi, itu bukan uang perak kuno Amerika, tapi sekeping uang perak zaman sekarang.

Namun, yang tak habis dimengerti adalah :

Itu adalah uang perak dengan nilai nominal 25 sen dollar AS yang telah di cetak dan belum diedarkan yang masih tertinggal di kas negara Amerika, yang rencananya baru akan diedarkan pada tahun 1997.

Mengapa uang perak AS zaman sekarang bisa berada di dalam kuil Mesir kuno pada 4000 tahun silam ? Para ilmuwan benar-benar bingung dibuatnya.
Laporan Sangat Rahasia NATO
Andaikata, karena perputaran waktu dan kembali ke masa lalu seperti tersebut di atas hanya kejadian yang kebetulan dan tidaklah aneh, bahkan diragukan.
Namun anehnya, seorang fisikawan juga membeberkan laporan sangat rahasia dari NATO, dan fakta yang di lukiskan dalam laporan tersebut, juga mengherankan
Quote:
Pada 1982 silam, dalam suatu latihan terbang dari Eropa Timur, tiba-tiba dalam medan penglihatan seorang pilot NATO muncul ratusan ekor dinosaurus, di luar dugaan pesawat itu tiba di daratan Afrika zaman prasejarah.
Quote:
Dalam suatu penerbangan, seorang pilot juga kesasar dalam Perang Jerman semasa Perang Dunia ke-2. Pilot tentara Sekutu dan pesawat tempur Jerman melihat-nya, dan hanya dalam waktu satu menit kemudian, ia kembali lagi ke realita. Apakah Waktu Bisa Berputar Kembali?Secara realitas, kecerdasan manusia masih belum cukup membendung berlalunya waktu .
Secara teori, bahwa waktu berputar kembali, dan kembali ke masa lalu bukan tidak memungkinkan.
Menurut teori Einstein, waktu dan ruang dapat mengalami perubahan dalam kecepatan cahaya.
Jadi, seandainya suatu benda terbang dengan kecepatan 300 ribu km/detik, maka ruang bisa di perpendek, dan waktu bisa di perlambat.

Setelah seorang fisikawan dari California of University mengkalkulasi hal terkait menuturkan manusia perlu waktu 200 ribu tahun untuk bisa tiba di Andromeda dari bumi, sedangkan di atas kapal dengan kecepatan cahaya hanya perlu 20 tahun.

Namun, apakah hal yang indah ini benar-benar bisa terjadi ? Jawabannya pasti.
Sebab para ilmuwan sudah menemukan partikel gaib yang terdapat di alam semesta yang bahkan jauh lebih cepat dibanding dengan kecepatan cahaya, dalam penelitiannya para ilmuwan mendapati :

Quote:
Ketika pesawat antariksa melewati gravitasi, gaya tarik medan gravitasi diubah menjadi tenaga pendorong, maka dalam waktu itu, pesawat antariksa bisa terbang dengan kecepatan cahaya bahkan dengan kecepatan cahaya ultra.

Para ahli dari Badan Antariksa Nasional Amerika telah membentuk teori resonansi medan waktu, teori ini dibentuk berdasarkan teori medan kesatuan Einstein dan fisikawan asal Jerman sebagai dasar teori
Quote:
Intinya adalah :

Dengan bantuan elastisitas perkembangan bersama elektromagnet, gravitasi, kecepatan cahaya dan ruang, sesaat melintasi ruang antarbintang.

Sampai saat itu, waktu berputar kembali tidak lagi merupakan sebuah misteri yang ditunggu pemecahannya. Terbetik berita, bahwa apabila kecepatan melampaui kecepatan cahaya, maka waktu akan berputar kembali.
copas dari :http://kaskus.us/showthread.php?t=1210887

Sabtu, 06 Desember 2008

Macam-macam jenis Phobia

A
Takut Air – Hydrophobia,
Takut Agama – Theologicophobia,
Takut Alat Kelamin – Kolpophobia,
Takut Aliran Udara – Aerophobia,
Takut Alkohol – Methyphobia,
Takut Alkohol – Potophobia,
Takut Amnesia – Amnesiphobia,
Takut Anggur – Oenophobia,
Takut Angin – Ancraophobia,
Takut Angka – Arithmophobia,
Takut Angka 13 - Triskaidekaphobia,
Takut Angka 8 – Octophobia,
Takut Anjing – Cynophobia,
Takut Anjing Laut – Lutraphobia,
Takut Anus – Rectophobia,
Takut Api – Arsonphobia,
Takut Api – Pyrophobia,
Takut Awan – Nephophobia,
Takut Ayam – Alektorophobia,
Takut Ayan – Hylephobia,
B
Takut Badut – Coulrophobia,
Takut Bahan Kimia - Chemophobia,
Takut Bangunan Tinggi – Batophobia,
Takut Banjir – Antlophobia,
Takut Bapak Tiri – Vitricophobia,
Takut Batu Nisan – Placophobia,
Takut Bau Badan – Bromidrosiphobia,
Takut Bau Bauan – Olfactophobia,
Takut Bau Busuk – Autodysomophobia,
Takut Bawa Mobil - Amaxophobia,
Takut Bawang Putih – Alliumphobia,
Takut Bayangan – Sciaphobia,
Takut Bebas – Eleutherophobia,
Takut Belanda – Dutchphobia,
Takut Benang – Linonophobia,
Takut Benda di Sebelah Kanan – Dextrophobia,
Takut Benda di Sebelah Kiri – Levophobia,
Takut Berantakan – Ataxophobia,
Takut Berbicara – Laliophobia,
Takut Bercinta – Malaxophobia,
Takut Bercinta – Sarmassophobia,
Takut Berdosa – Hamartophobia,
Takut Berfikir – Phronemophobia,
Takut Berita Baik – Euphobia,
Takut Berjalan – Stasibasiphobia,
Takut Berjanji – Enissophobia,
Takut Berkotbah – Homilophobia,
Takut Berlarut – Apeirophobia,
Takut Bersenggama – Coitophobia,
Takut Bertanggung Jawab – Hypegiaphobia,
Takut Binatang – Zoophobia.
Takut Binatang Liar – Agrizoophobia,
Takut Binatang Melata – Herpetophobia,
Takut Bintang – Astrophobia,
Takut Bintang – Siderophobia,
Takut Bintang Berekor – Cometophobia,
Takut Bom Atom – Atomosophobia,
Takut Boneka – Pediophobia,
Takut Boneka Bersuara Perut – Automatonophobia,
Takut Bosan – Xerophobia,
Takut Botak – Phalacrophobia,
Takut Buang Air Besar – Rhypophobia,
Takut Buku – Bibliophobia,
Takut Bulan – Selenophobia,
Takut Bulu Ayam – Pteronophobia,
Takut Bunga – Anthophobia,
Takut Bunga Es – Pagophobia,
Takut Bungkuk – Kyphophobia,
Takut Burung – Ornithophobia,
Takut Buta – Scotomaphobia,
C
Takut Cabut Gigi – Odontophobia,
Takut Cacing – Helminthophobia,
Takut Cacing – Scoleciphobia,
Takut Cacing Pita – Taeniophobia,
Takut Cacing Pita Babi – Trichinophobia,
Takut Cahaya – Photophobia,
Takut Cahaya dari Utara – Auroraphobia,
Takut Caplak – Phthiriophobia,
Takut Cemburu – Zelophobia,
Takut Cermin – Catoptrophobia,
Takut Cina – Sinophobia,
Takut Corak Baru - Cainophobia
D
Takut Daerah Perbatasan – Claustrophobia,
Takut Daging – Carnophobia,
Takut Dagu – Geniophobia,
Takut Danau – Limnophobia,
Takut Darah – Hemaphobia,
Takut Debu – Amathophobia,
Takut Debu – Koniophobia,
Takut Demam – Febriphobia,
Takut Demam – Fibriophobia,
Takut Demo – Daemonophobia,
Takut dengan Seks – Erotophobia,
Takut Dewa – Zeusophobia,
Takut Di dalam Rumah – Oikophobia,
Takut di Ejek – Katagelophobia,
Takut di Hipnotis – Hynophobia,
Takut Di pandang – Opthalmophobia,
Takut Diabaikan – Athazagoraphobia,
Takut Dibatasi – Merinthophobia,
Takut Dibenci – Melophobia,
Takut Dicekik – Pnigophobia,
Takut Dicuri – Cleptophobia,
Takut Dihukum – Mastigophobia,
Takut Dihukum Berat – Rhabdophobia,
Takut Dikubur Sendirian – Taphephobia,
Takut Diluar Ruangan – Spacephobia,
Takut Dingin – Cheimaphobia,
Takut Dingin – Psychrophobia,
Takut Dinilai Negatif – Socialphobia,
Takut Diracun – Toxicophobia,
Takut Dirampok – Harpaxophobia,
Takut Disentuh – Aphenphosmphobia,
Takut Disentuh - Chiraptophobia,
Takut Disentuh – Haphephobia,
Takut Disuntik – Trypanophobia,
Takut Ditatap – Scopophobia,
Takut Ditertawakan – Catagelophobia,
Takut Ditinggal Sendiri – Eremophobia,
Takut Dokter Gigi – Dentophobia,
Takut Dubur – Proctophobia,
Takut Duduk – Cathisophobia,
Takut Duduk – Taasophobia,
Takut Duduk di Bawah – Kathisophobia,
E
Takut Emas – Aurophobia,
Takut Es Batu – Cryophobia,
F
Takut Fenomena Kosmis – Kosmikophobia,
Takut Filosofi – Philosophobia,
G
Takut Gagal – Atychiphobia,
Takut Gagap – Psellismophobia,
Takut Gatal – Acarophobia,
Takut Gatal – Pellagrophobia,
Takut Gedung Pertunjukan – Theatrophobia,
Takut Gelap – Achluophobia,
Takut Gelap – Lygophobia,
Takut Gelas – Hyelophobia,
Takut Gelombang – Kymophobia,
Takut Gembira – Cherophobia,
Takut Gerakan – Kinetophobia,
Takut Gereja – Ecclesiophobia,
Takut Getaran – Tremophobia,
Takut Gravitasi – Barophobia,
H
Takut Halloween – Samhainophobia,
Takut Hamil – Tocophobia,
Takut Hantu – Bogyphobia,
Takut Hantu – Phasmophobia,
Takut Hantu – Spectrophobia,
Takut Hujan – Ombrophobia,
Takut Hujan – Pluviophobia,
Takut Hukum – Dikephobia,
Takut Hukuman – Poinephobia,
Takut Hutan – Hylophobia,
Takut Hutan – Xylophobia,
Takut Hutan di Malam Hari – Nyctophobia,
I
Takut Ibu Tiri – Novercaphobia,
Takut Ide – Ideophobia,
Takut Ide Baru – Cenophobia,
Takut Ikan – Ichthyophobia,
Takut Inggris – Anglophobia,
Takut Insektisida – Entomophobia,
Takut Istilah Latin – Hellenologophobia,
J
Takut Jadi Gila – Lysssophobia,
Takut Jadi Homoseks – Homophobia,
Takut Jahudi – Judeophobia,
Takut Jalan – Ambulophobia,
Takut Jamur – Mycophobia,
Takut Jarum – Aichmophobia,
Takut Jatuh - Basiphobia
Takut Jatuh Cinta – Philophobia,
Takut Jelek – Cacophobia,
Takut Jembatan Penyeberangan – Gephydrophobia,
Takut Jenggot – Pogonophobia,
Takut Jenis Kelamin Berbeda – Heterophobia,
Takut Jepang – Japanophobia,
Takut Jerman – Germanophobia,
Takut Jerman – Teutophobia,
Takut Jomblo – Anuptaphobia,
Takut Jum’at ke 13 – Paraskavedekatriaphobia,
K
Takut Kabut – Homichlophobia,
Takut Kacang – Arachibutyrophobia,
Takut Kaget – Hormephobia,
Takut Kain Lap – Vestiphobia,
Takut Kain Satin – Satanophobia,
Takut Kalah – Kakorrhaphiophobia,
Takut Kanker - Carcinophobia,
Takut Kanker – Cancerophobia,
Takut Kata Kata – Logophobia,
Takut Kata Kata – Verbophobia,
Takut Kata Panjang – Hippopotomonstrosesquippedaliophobia,
Takut Kata yang Panjang – Sesquipedalophobia,
Takut Katak – Ranidaphobia,
Takut Kaya – Plutophobia,
Takut Ke Sekolah – Didaskaleinophobia,
Takut Kecelakaan – Dystychiphobia,
Takut Kedalaman – Bathophobia,
Takut Kedokter – Iatrophobia,
Takut Kegelapan – Myctophobia,
Takut Kegelapan – Scotophobia,
Takut Kejatuhan Benda – Atephobia,
Takut Kekacauan – Demophobia,
Takut Kelahiran – Parturiphobia,
Takut Kelainan Bentuk – Dysmorphophobia,
Takut Kelamin Wanita – Eurotophobia,
Takut Kemajuan – Prosophobia,
Takut Kembali ke Rumah – Nostophobia,
Takut Kembung – Anginophobia,
Takut Kencing – Urophobia,
Takut Keramaian – Agoraphobia,
Takut Kerang-Kerangan – Ostraconophobia,
Takut Kereta Api – Diderodromophobia,
Takut Keriput – Rhytiphobia,
Takut Kerja Berlebihan – Ponophobia,
Takut Kertas – Papyrophobia,
Takut Kesakitan – Agliophobia,
Takut Ketinggian – Altophobia,,
Takut Ketinggian – Hypsiphobia,
Takut Ketularan – Tapinophobia,
Takut Keturunan – Patroiophobia,
Takut Kezaliman – Tyrannophobia,
Takut Kilat – Brontophobia,
Takut Kodok – Bufonophobia,
Takut Komputer – Cyberphobia,
Takut Komputer – Logizomechanophobia,
Takut Kotor – Automysophobia,
Takut Kotoran – Myxophobia,
Takut Kriminal – Peccatophobia,
Takut Kristal – Crystallophobia,
Takut Kuburan – Coimetrophobia,
Takut Kucing – Ailurophobia,
Takut Kucing – Elurophobia,
Takut Kucing – Felinophobia,
Takut Kuda – Equinophobia,
Takut Kuda – Hippophobia,
Takut Kulit Binatang – Doraphobia,
Takut Kuman – Spermatophobia,
Takut Kunci - Chronomentrophobia,
Takut Kutu – Pediculophobia,
L
Takut Laba Laba – Arachnophobia,
Takut Laki Laki – Androphobia,
Takut Laki Laki – Arrhenophobia,
Takut Lampu Sorot – Selaphobia,
Takut Laut – Thalassophobia,
Takut Lawan Jenis – Sexophobia,
Takut Lebah – Apiphobia,
Takut Lecet – Amychophobia,
Takut Lelah – Kopophobia,
Takut Lembab – Hygrophobia,
Takut Lengket di Langit Mulut – Arachibutyrophobia,
Takut Listrik – Enochlophobia,
Takut Logam – Metallophobia,
Takut Lompat – Catapedaphobia,
Takut Luka – Dematophobia,
Takut Luka – Traumatophobia,
Takut Lumpuh – Poliosophobia,
Takut Lumpur – Blennophobia,
Takut Lutut - Genuphobia,
M
Takut Mabuk Udara – Aeronausiphobia,
Takut Makan – Phagophobia,
Takut Makan – Sitiophobia,
Takut Makanan - Cibophobia,
Takut Makanan – Sitophobia,
Takut Mal Praktek – Ergasiophobia,
Takut Malam – Noctiphobia,
Takut Maling – Scelerophobia,
Takut Mandek – Ankylophobia,
Takut Mandi - Ablutophobia,
Takut Marah – Angrophobia,
Takut Masak – Mageirocophobia,
Takut Mata Kabur – Diplophobia,
Takut Mata Mata – Ommatophobia,
Takut Matahari – Heliophobia,
Takut Matahari - Phengophobia,
Takut Mati – Necrophobia,
Takut Mati – Thantophobia,
Takut Melahirkan – Lockiophobia,
Takut Melahirkan – Maieusiophobia,
Takut Melarat - Peniaphobia
Takut Melihat Massa – Ochlophobia,
Takut Membelakangi – Dishabiliophobia,
Takut Membuat Keputusan – Decidophobia,
Takut Membuat Perubahan – Tropophobia,
Takut Membuka Satu Mata – Optophobia,
Takut Membusuk – Seplophobia,
Takut Menari - Chorophobia,
Takut Mencium – Philemaphobia,
Takut Mendengar Kata Tertentu – Onomatophobia,
Takut Menderita – Panthophobia,
Takut Menganggur – Domatophobia,
Takut Mengingat – Mnemophobia,
Takut Menikah – Gamophobia,
Takut Menjadi Sakit – Nosemaphobia,
Takut Menstruasi – Monophobia,
Takut Menua – Gerascophobia,
Takut Menulis di Papan – Scriptophobia,
Takut Menunggu Lama – Macrophobia,
Takut Menyeberang – Agyrophobia,
Takut Menyeberang Jalan – Dromophobia,
Takut Merasa Nyaman – Hedonophobia,
Takut Mertua – Pentheraphobia,
Takut Mertua – Soceraphobia,
Takut Mesin – Mechanophobia,
Takut Meteor – Meterorophobia,
Takut Mikroba – Bacillophobia,
Takut Mikroba – Microbiophobia,
Takut Milik – Orthophobia,
Takut Mimisan – Epistaxiophobia,
Takut Mimpi – Oneirophobia,
Takut Mimpi Basah – Oneirogmophobia,
Takut Minum Obat – Pharmacophobia,
Takut Minuman – Dipsophobia,
Takut Mitos – Mythophobia,
Takut Mobil – Motorphobia,
Takut Monster – Teratophobia,
Takut Mukanya Merah – Ereuthophobia,
Takut Mulut Kejang – Tetanophobia,
Takut Muntahan – Emetophobia,
N
Takut Naik Mobil – Ochophobia,
Takut Naik Pesawat – Aerophobia,
Takut Naik Pesawat – Aviophobia,
Takut Nama Nama – Namatophobia,
Takut Neraka – Hadephobia,
Takut Neraka – Stigiophobia,
Takut Ngaca – Eisoptrophobia,
Takut Ngaceng – Ithypallophobia,
Takut Ngebut – Tachophobia,
Takut Ngengat – Mottophobia,
Takut Noda – Rupophobia,
Takut Nomer – Numerophobia,
Takut Nyeri – Algophobia,
Takut Nyeri – Odynephobia,
o
Takut Obat Baru – Neopharmaphobia,
Takut Ombak – Cymophobia,
Takut Operasi – Tomophobia,
Takut Orang Asing – Xenophobia,
Takut Orang Asing – Xenophobia,
Takut Orang Botak – Peladophobia,
Takut Orang Buntung - Apotemnophobia,
Takut Orang Suci – Hagiophobia,
Takut Otot Gerak Sendiri – Ataxiophobia,
P
Takut Panas – Thermophobia,
Takut Parasit – Parasitophobia,
Takut Paus – Papaphobia,
Takut Pelecehan Seksual – Agraphobia,
Takut Pelecehan Seksual – Contreltophobia,
Takut Peluru – Ballistophobia,
Takut Pembicaraan Dinner – Deipnophobia,
Takut Pemerkosa – Virginitiphobia,
Takut Pendapat – Allodoxaphobia,
Takut Pendeta – Hierophobia,
Takut Pengemis – Hobophobia,
Takut Pengetahuan – Epistemphobia,
Takut Pengetahuan – Gnosiophobia,
Takut Penis – Phallophobia,
Takut Penis Berdiri – Medorthophobia,
Takut Penis Loyo – Medomalacuphobia,
Takut Penyakit – Pathophobia,
Takut Penyimpangan Seks – Paraphobia,
Takut Peralatan Listrik – Electrophobia,
Takut Perancis – Francophobia,
Takut Perjalanan – Hodophobia,
Takut Perkara Hukum – Liticaphobia,
Takut Perubahan – Metathesiophobia,
Takut Petir – Astrapophobia,
Takut Pikiran – Psychophobia,
Takut Pin – Balenephobia,
Takut Pin – Enetophobia,
Takut Pingsan – Ashenophobia,
Takut Pohon – Dendrophobia,
Takut Politikus – Politicophobia,
Takut Pria – Hominophobia,
Takut Puisi – Mertophobia,
Takut Pusaran Air – Dinophobia,
R
Takut Rabies – Hydrophobophobia,
Takut Rabies – Kynophobia,
Takut Racun – Iophobia,
Takut Racun - Toxiphobia
Takut Rambut – Chaetophobia,
Takut Rambut – Trichopathophobia,
Takut Rasa – Geumaphobia,
Takut Rayap – Isopterophobia,
Takut Reptil - Batrachophobia,
Takut Reptil – Herpetophobia,
Takut Ruang Kosong – Cenophobia,
Takut Ruangan – Koinoniphobia,
Takut Ruangan Kosong – Kenophobia,
Takut Rumah – Ecophobia,
Takut Rumah Sakit – Nosocomephobia,
Takut Rusia – Russophobia,
S
Takut Sakit Demam – Pyrexiophobia,
Takut Sakit Diabetes – Diabetophobia,
Takut Sakit Ginjal – Albuminurophobia,
Takut Sakit Jantung – Cardiophobia,
Takut Sakit Jiwa – Dementophobia,
Takut Sakit Jiwa – Maniaphobia,
Takut Sakit Kelamin – Cyprianophobia,
Takut Sakit Kolera - Cholerophobia,
Takut Sakit Kulit – Dermatophathophobia,
Takut Sakit Kusta – Leprophobia,
Takut Sakit Otak – Meningitiophobia,
Takut Sakit Syphilis – Syphilophobia,
Takut Sakit Syphillis – Luiphobia,
Takut Salib – Staurophobia,
Takut Salju – Chionophobia,
Takut Sama Gadis – Parthenophobia,
Takut Sapi Jantan – Taurophobia,
Takut Saudara – Syngenesophobia,
Takut Sayuran – Lachanophobia,
Takut Segala Sesuatu – Polyphobia,
Takut Segalanya – Panophobia,
Takut Sekitar Rumah – Eicophobia,
Takut Sekitar Rumah – Oikophobia,
Takut Sekolah – Scoionophobia,
Takut Seks – Genophobia,
Takut Semangat – Pneumatiphobia,
Takut Semut – Myrmecophobia,
Takut Sendiri – Isolophobia,
Takut Sendirian – Autophobia,
Takut Sendirian – Monophobia,
Takut Senjata Api – Hoplophobia,
Takut Senjata Nuklir – Nucleomituphobia,
Takut Sepeda – Cyclophobia,
Takut Serangga – Epistaxiophobia,
Takut Serangga – Insectophobia,
Takut Seruling – Aulophobia,
Takut Sesuatu dari Kiri – Sinistrophobia,
Takut Sesuatu yang Baru – Kainolophobia,
Takut Sesuatu yang Baru – Neophobia,
Takut Sesuatu yang Besar – Megalophobia,
Takut Sesuatu yang Kecil – Microphobia,
Takut Silau – Photoaugliaphobia,
Takut Simbol – Symbolophobia,
Takut Simetris – Symmetrophobia,
Takut Sinar X – Radiophobia,
Takut Situasi yang Menakutkan – Counterphobia,
Takut Skabies – Scabiophobia,
Takut Suara – Acousticophobia,
Takut Suara Keras – Ligyrophobia,
Takut Suara Telpon – Phonophobia,
Takut Subuh – Eosophobia,
Takut Sungai – Potamophobia,
Takut Surga – Ouranophobia,
Takut Surga – Uranophobia,
Takut Susah Be’ol – Coprastasophobia,
T
Takut Tabuhan – Spheksophobia,
Takut Tai – Coprophobia,
Takut Takut Anak Anak – Pedophobia,
Takut Tali – Cnidophobia,
Takut Tambah Berat – Obesophobia,
Takut Tambah Berat – Pocrescophobia,
Takut Tanaman – Batonophobia,
Takut Tangga – Climacophobia,
Takut Tanggung Jawab – Paralipophobia,
Takut Tantangan – Heresyphobia,
Takut Tawon – Melissophobia,
Takut TBC – Phthisiophobia,
Takut TBC – Tuberculophobia,
Takut Tebing – Cremnophobia,
Takut Teknologi – Technophobia,
Takut Tekstur Tertentu – Textophobia,
Takut Telanjang – Gymnophobia,
Takut Telanjang – Nudophobia,
Takut Telpon – Telephophobia,
Takut Tempat Sempit – Stenophobia,
Takut Tempat Terbuka – Agoraphobia,
Takut Tempat Tertentu – Topophobia,
Takut Tempat Tertutup – Claustrophobia,
Takut Tempat Tinggi Terbuka – Aeroacrophobia,
Takut Terbahak – Geliophobia,
Takut Terbang – Pteromerhanophobia,
Takut Tergantung pada Orang – Soteriophobia,
Takut Terkontaminasi Debu – Misophobia,
Takut Terkunci – Cleisiophobia,
Takut Tidak Sempurna – Atelophobia,
Takut Tidak Simetris – Asymmetriphobia,
Takut Tidur – Clinophobia,
Takut Tidur – Somniphobia,
Takut Tikus – Murophobia,
Takut Tikus – Suriphobia,
Takut Tikus Besar – Zemmiphobia,
Takut Tornado – Lilapsophobia,
Takut Tuhan – Theophobia,
Takut Tulisan Tangan – Graphophobia,
Takut Tuma – Verminophobia,
U
Takut Uang - Chrematophobia,
Takut Ujian – Tertaphobia,
Takut Ular – Ophidiophobia,
Takut Ular – Snakephobia,
Takut Upacara Seremonial – Teleophobia,
V
Takut Vaksinasi – Vaccinophobia,
Takut Vertigo – Illyngophobia,
w
Takut Waktu - Chronophobia,
Takut Wangi-Wangian – Osphesiophobia,
Takut Wanita – Gynephobia,
Takut Wanita Cantik – Caligynephobia,
Takut Wanita Cantik – Venustraphobia,
Takut Wanita Sihir – Vitricophobia,
Takut Warga – Anthropophobia,
Takut Warna - Chromatophobia,
Takut Warna Hitam – Melanophobia,
Takut Warna Kuning – Xanthophobia,
Takut Warna Putih – Leukophobia,
Takut Warna Ungu – Porphyrophobia,
Takut Wayang – Pupaphobia.

Ada yang punya phobia?
saya sih ada, insectiphobia..

sumber : http://kaskus.us/showthread.php?t=1088184

A Weekday's Journal

Pagi
Statusku masih ngantuk" ayem, belum konek ke dunia nyata. Hoaahm~ Ceritanya mau mandi nih.. jam 6 lah (udah siang) kalo gag di bangunin pasti jam sgitu juga masih molor.
Dengan langkah males-malesan aku keluar kamar lalu mengintip ke kamar sebelah "Ah..aman.." kulihat Gusyu masih terkapar di tempat tidur (Note: soal bangun pagi dia lebih parah). Mungkin terdengar berlebihan, tapi kalimat ini boleh juga : PAGI AMAN TANPA GUSYU

Pagi - Siang
Transpahse. Fase transasi matahari menuju puncaknya. Fase ini adalah fase paling yahud. TApi jeals bukan yahud buatku, tapi buat Gusyu! ya, jam-jam segini ini serangan datang baik langsung maupun tak langsung. Parah banget. Parah.
Segitu parahnya? yup. didukung oleh beberapa faktor" khusus, kesabaranku dituntut untuk power up hingga 3 kali lipat. Harus lebih tangguh. Tapi, pada fase ini pula aku lemah, moodku belum dateng biasanya jam segini. Jadi ya..
.
.
musti sabar. teuteup~
Oya faktor" itu antara lain :

1) Kelas
di kelas automatically isinya gag cuma aku ma Gusyu doank. Ada dong temen" lain. Totally,mereka berjumah 20 orang. Beragam wujud, beragam polah pula, masing: denagn skill usil andalannya masing-masing.

Arif
type : gagal
aku ngerti. Kalau maksudnya pengen mengusili ku, tapi diem-diem, dan melancarkan serangan tiba-tiba. Tapi (entah aku yang kepinteran atau dia yang payah) pasti udah ketahuan duluan dan biasanya dia belum aja ada semeter, kalo sekiranya uda ada niatan mau ganggu, pasti aku bisa tahu. Gerak geriknya gag prof banget.
Nah kalo ketahuan gitu, si kambing ini langsung jadi salting dan mengeluarkan jurus tawanya yang sumpah konyol abis! berikut ini step2nya, silakan dicoba :
* melototlah sebesar yang kamu bisa, serasa mata mau keluar
* gunakan tanganmu untuk menutup kelopak matamu, tapi hanya seperempat, ingat, step ini harus dilakukan dengan benar
* oke, kalau sudah bisa. Sekarang menyegirlah, tertawa lalu tahan sehingga mulut kamu membentuk shape yang kamu rasa janggal. kalau gak ngerasa janggal, ulangi lagi sampai terasa.
* angkat tangan kananmu sampai pada ketinggian tertentu sehingga bisa menutupi mulutmu, jangan ditutupi sampai habis. Lakukan seperti kamu menutupi batuk dengan jari kelingking dinaikkan. Lakukan sampai terasa janggal.
* Tahan posisi itu. Lalu sambil bersuara "aheg heg heg" angkatlah tangan kirimu menunjuk sesuatu denagn seluwes mungkin.
* jika sudah ngerasa bisa, silakan menghubungi ARIF SETYOBUDI, SEMESTA 12IaPa1, untuk mengambil hadiah.

Widi
type : nimbrung
Sohib. sekaligus juga pengkhianat terbesar. Nimbrung maksudnya dia gag pernah melancarkan 1st attack. Misal :

Me : "hahaha" (ikutan ketawa)
Gusyu : "opo lho ton, hii..aneh ih, melu melu ik" (sambil mainin aku)

Nah, anak2 yang lain pada ikutan, ngumpul semua, termasuk Widi di dalamnya. dia datengnya belakangan, terakhir2an. Pertama,ku kira dia gag ikutan , tapi ternyata..dia yang moles paling keras! Ya, Widi. naive, bermuka dua. Anyway, he's kinda nice boy.

Gusyu
type : algojo
Do i need to tell you?












Ricky
type : genit
jangan kaget ngebaca tipenya. Ga parah banget. Kalo parah BANGET uda dari dulu kali aku kabur dari ekosistem paling gag seimbang ini. Gorilla or King Kong satu ini FYI anak basket. Ini nih yang paling getol megang-megang, meluk-meluk. Jijay. Kalo orang baru yang gag kenal SEMESTA especially kelas kami dan dia, ga aneh kalo mikirnya Homo! ya, homo...
sucks!
Pacet! nempel terus.. Emang sih buakn type algojo kayak Gusyu, ga ada damage apa" kalo nyerang. Ibarat Pokemon dya itu Psychic. ga walau pun melalui fisik, tapi damage nya mental
NB : sering ter-gaplok kalo aku lose control. en masih utang eskrim Walls' Magnum ma aku!
Yah.. itu cuman 4 contoh. 16nya lagi juga ada dengan khasnya masing". Bahkan ada Husein! gag nyangka deh kalo dia itu termasuk.

2) Segar
kayak dracula yang suka ngisep darah seger, cuma analisa + majas perumpamaan aja sih. Masa" ini kan beberapa masih pada lemes dan otomatis cari cara biar segar, ga ngantuk pas pelajaran, aku setuju soal ini. Terbukti tawa bisa bikin kita yang lagi butek, fresh lagi. Masalahnya, aku yang justru menyegarkan orang-orang sekitar. caranya? tentu bukan denagn di isep darahnya, Hii~ demit apa?
tapi.. (tetep hii juga sih) macem-macem caranya yang intinya "how to wasting ton's patient"

Siang - Malam (22:00)
Sama kayak fase 2 sih. Cuma berkurang intensitasnya,(pada sibuk sendiri), tapi bertambah suspect alias tersangkanya. contoh aja nih satu.

Rizky aka Om Ren aka Amca
type : imaginative
Hidup dengan anggapan "ton adalah mainan". Si compfreak satu ini mainnya soft and so imaginative. Kalo ketemu dia, aku pasti mikirnya "gawat, bakal jadi apa nih.." bisa jadi :
* Anak Kecil
* Boneka
Yah.. paling mendinglah diantarayang lain yang uda aku ceritain di atas.



Malam (>22:00)

satu kata deh, untuk fase ini. Tenang~
tenang~ tenang~
kesempatan aku bisa ngomong bebas tanpa harus takut di "skill"
kesempatan aku bisa bergerak tanpa harus takut di "skill"
kesempatan aku bisa melakulan sesuatu tanpa harus takut di "skill"
dan bisa tidur, mengakhiri hari yang melelahkan, menunggu pagi yang kan datang, yang pasti ku kan kesiangan dan kembali mengulangi fase demi fase. dan kembali tersenyum.

Jumat, 05 Desember 2008

Sebab-sebab Jin Merasuki Manusia

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam buku Risalatul Jinni, hal 27, menjelaskan sebab-sebab masuknya jin ke dalam tubuh manusia:

Pertama, karena syahwat, hawa nafsu dan mabuk cinta, baik jin maupun manusia.

Kedua, jin itu ingin menguasai manusia dengan menikahinya. Dan banyak juga manusia yang terjebak mau melakukan pernikahan dengan jin dan punya anak. Hal ini banyak terjadi, disebutkan dan dibicarakan para ulama. Mayoritas para ulama membenci pernikahan jin dan manusia ini. Karena pernikahan itu sebenarnya dilakukan karena kebencian jin itu kepada manusia.

Ibnu Taimiyah berpendapat jika terjadi perkimpoian jin dan manusia itu, hukumnya adalah haram. Jin itu harus diberikan peringatan bahwa Ia sudah melanggar perintah Allah SWT dan Rasulnya yang diutus kepada jin dan manusia. Di sini bisa ditegakkan hujjah kepada mereka, di mana berlaku Hukum Allah SWT dan Rasul-Nya yang diutus untuk jin dan manusia.

Ketiga, balas dendam jin pada manusia. Hal ini seperti pembalasan atas perlakuan manusia sebelumnya kepada mereka, seperti tersakiti oleh sebagian manusia atau karena mereka menyangka bahwa sebagian manusia tersebut sengaja menyakiti mereka. Seperti mengencingi, menumpahkan air panas atau membunuh sebagian mereka padahal manusia tidak mengetahuinya.

Di kalangan jin, kata Ibnu Taimiyah, juga ada kebodohan dan kezhaliman sehingga mereka menghukumnya secara tidak wajar, mungkin karena kesia-siaan dan kejahatan seperti halnya manusia-manusia bodoh.

Kalau hal ini terjadi menurut Syaikh, Jin itu harus diperingati bahwasanya ia tidak ada hak untuk masuk ke wilayah manusia tanpa izin manusia. Ketika manusia itu kencing, menyiramkan air panas atau menjatuhkan benda manusia itu tidak tahu kalau ada Jin di sana. Tetapi jin punya hak untuk menempati wilayah-wilayah yang tidak dihuni manusia; seperti hutan, gurun sahara, lautan, sungai dll.

Di sini juga bisa ditegakkan hujjah kepada mereka, di mana berlaku Hukum Allah SWT dan Rasul-Nya yang diutus untuk jin dan manusia.

Maksudnya, jin dan manusia itu harus patuh pada perintah Allah SWT, berbuat makruf dan mencegah perbuatan jahat jin kepada manusia.

“Dan Kami tidak menyiksa sebelum Kami mengutus seorang Rasul” (Al Quran Surah Al Isra’ : 15)

“Hai manusia dan jin, apakah belum datang kepadamu Rasul-rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyampaikan kepadamu ayat-ayat-Ku dan memberikan peringatan terhadap pertemuan dengan hari ini?” (Al Quran Surat al-Jin : 130)

Secara singkat masuknya jin ke tubuh manusia menurut Ibnu Taimiyah adalah :

1. Jin laki-laki jatuh cinta pada wanita manusia, atau jin perempuan jatuh cinta pada laki-laki dari golongan manusia.

2. Kezhaliman manusia terhadap jin dengan menumpahkan air panas kepadanya, menimpanya dengan benda yang dijatuh dari tempat yang tinggi dsb.

3. Kezhaliman jin terhadap manusia seperti menggangunya tanpa sebab. Dalam hal ini jin tidak bisa menggangu manusia kecuali dalam kondisi : marah sekali, takut sekali, senantiasa bernafsu syahwat, lalai sekali dari mengingat Allah SWT.

http://kaskus.us/showthread.php?t=1247075

Tugas Cerpen Bahasa Indonesia

Diari Ria

Sabtu, 4 April 2008
Hi teman-yang-selalu-ada-menemaniku sayang.
Kau pasti bosan. Kenapa? Ya, karena aku akan bertanya lagi hal yang sama yang telah delapan puluh kali kutulis di lembar-lembar mu ini, “Kapan aku punya teman?”. Bukan, bukan begitu maksudku, kau tetap temanku, kau sahabatku yang paling setia, tubuhmu yang tebal seakan selalu siap menerima semua keluhanku,kau bagai memelukku dengan hangat. Kau juga selalu ceria, warna merah mudamu tak pernah luntur, setiap kulihat kau, aku tahu, kau tersenyum untukku “Hi Ria..apa kabar hari ini” sapamu, atau kau juga kadang menghiburku “Sudahlah..tabah”. Kau teman yang baiiiik banget.
Tapi, tahukah kau, teman-paling-baikku sayang. Terkadang aku menerawang ke langit, aku iri pada bintang-bintang, aku iri pada matahari. Bintang yang kulihat kecil itu, dalam gelap malam, selalu setia,berani,menerangiku,menemani setiap oarang dikala gelap. Matahari yang selalu mereka hujat dengan kata “Sial, matahari panas!” dan lainnya saja, ia masih, selau, selalu saja menerangi kita, apakah mereka tidak berpikir? Apa jadinya bumi tanpanya? Ia merupakan sumber kehidupan mereka, manusia. Ia yang memberi nafas pada tumbuahn yang kita makan, pada padi, pada rumput yang dimakan sapi, yang kita makan pula dagingnya. Aku pun.
Aku berpikir, mengapa bintang dan matahari bisa bertahan, terus saja mengisi langit? aku pun tahu, ia tak sendiri, lihatlah teman-paling-baikku sayang, ia selau berkelip, bermain bersama jutaan bintang lain. Ia tak kesepian. Matahari, ia bercanda, petak umpet, bersembunyi dibalik awan, lalu keluar lagi. Ia tak kesepian.
Terima kasih kawan, kau lagi-lagi basah menampung air mataku. Tenang, aku tidak menangis kok..bukankah ini sudah biasa? Sudah delapan puluh kali aku menulis di tubuhmu. Satu lembar malah pernah bolong, maap ya.. Hanya sepuluh kali aku tersenyum di depanmu, masih bisa dihitung dengan jari.
Ini kali kedelapan puluh satunya aku menulis diatas dan kini, berarti sudah tujuh puluh satu Kali aku membasahimu kawan.
Kawan, aku kesepian, dan..

Segera Ria menutup bukunya, ia tak melanjutkan tulisannya setelah ia melihat jam dinding mickey mouse-nya menunjukkan pukul 16:00 WIB. Diiringi suara teriakan ceria, tawa, ia mengayuh dengan semangat, memutar roda dari kursi rodanya menuju arah jendela besar di kamarnya, lalu ia mengusap air yang membasahi wajahnya dengan menarik kerah bajunya, lalu terisak, lalu mengembang, tersenyum seiring membuka tirai.

Posisi kamar Ria berada dilantai dua rumah minimalisnya. Sebuah jendela besar disana, menghadap ke arah belakang rumah, ke arah padang rumput hijau tempat anak-anak biasa bermain, berkejar-kejaran, layang-;layang, menangkap capung, bermain lumpur dikala hujan.

Jam empat sore, biasanya anak-anak sudah mulai berkumpul. Biasanya mereka menggerombol, membentuk lingkaran. Seperti mengadakan rapat kecil diantara mereka, memutuskan “main apakah hari ini?”. Lalu salah satu dari mereka pun berlari meninggalkan gerombol tadi. Satu, dua, dan mereka lalu muali mengejar satu sama lain, terjatuh, tertawa, teluka, ceria.

Ria sudah hafal. Pola yang ia lihat, amati selama 5 tahun itu tak pernah berubah. Pola keceriaan. Tapi mereka tak pernah bosan, begitupun Ria, ia tak pernah absen melihat mereka. Menyaksikan mereka dari jauh, dari jendela kamarnya. Tersenyum, kadang menggerak-gerakan tangannya bagai burung, melonjak menegangkan punggungnya, mengenggam tangannya erat, atau mengerak-gerakan jari-jari mungil kakinya, tertawa ringan, kadang terbahak. Namun, kadang pula menangis.

Sebenarnya, sekali ia pernah absen. Saat itu ia terpaksa harus di opname di rumah sakit untuk sebulan lamanya. Walau banyak mendapat coklat, mainan, dan kartu ucapan, ketika malam, sendiri ia menangis dalam lelap. Ia merasa kesepian. Tak ada yang tahu hal ini, ia tak mau lagi menambah beban ibundanya, ia tak mau dikasihani, ia selalu tersenyum ketika orang-orang datang menjenguknya.

Saat di rawat di rumah sakit itulah ia berkenalan, bertemu dengan sang teman-manis-paling-setianya, sebuah buku diari merah jambu, bergambar anjing putih kecil, pemberian ayahnya yang kini sudah tak bersamanya lagi. Entah kenapa, sejak ia bertemu dengan temannya itu ia tak pernah lagi menangis dalam lelap. Ia merasa lebih tenang.

Sejak Ria mebuka matanya, keluar dari gelap, hadir di dunia, ia sudah lemah. Ia cacat sedari kecil, kakinya tak bisa digerakkan dan satu hal yang Ria paling benci—kadang—bibirnya yang sumbing. Sebenarnya bisa saja ia dioperasi karena ia memiliki keluarga yang berkecukupan. Tapi, ibunya memiliki trauma tersendiri dan tak mengizinkan Ria dioperasi. Hal ini juga yang nantinya menjadi pemicu perceraian ayah dan ibundanya.

Sedari kecil, Ria selalu dirumah, tempat terjauh yang dicapainya hanya taman, ke halaman rumahnya yang luas namun terasa sempit baginya. Ia memiliki tubuh yang rentan terhadap penyakit, dingin sedikit saja di luar rumah, ia bisa terkena demam berdiam di dalam rumah.

Diari dan jendela, bisa dibilang dua hal itu yang paling berharga baginya. Lewat diari ia berbagi, melalui jendela ia bermimpi. Mencari sedikit obat bagi kesepiannya.

Ria terdiam, tidak tertawa, tidak tersenyum tidak pula menangis, menatap menembus jendela, ia kaget. Pola yang selalu berjalan di atas lapangan hijau itu, teratur, kini terusik. Ia melihat seseorang yang ia tak pernah lihat sebelumnya. Bukan orang tua mereka, kakak, atau kakek yang memanggil cucunya. Mengenakan kaos hitam, becelana jeans, bekumis, dan berambut cepak model tentara. Mengeluarkan sesuatu dari sakunya, berlari, menangkap seorang anak, memeluknya dari belakang. Terlhat benda itu berkilau terkena cahaya, Ria melihat kilauan itu, di leher anak yang pria itu dekap. Seperti menodong entah mengancam. Ria menduga itu adalah pisau.

“Ari! Ari!” teriak seorang gadis berambut pendek sebahu.

“Diam!” seorang pria besar berkaos hitam berteriak, membentak. Serentak, gadis berambut pendek beserta ketiga orang yang lain terdiam, berdiri kaku. “Awas, kalau kalian berteriak! Diam!” bentak pria itu lagi dengan kasarnya. Ratih si gadis kecil, mulai meneteskan air mata. Heru yang walau takut, memberanikan diri, mencoba menenangkan Ratih dengan mengeanggam erat tangan mungilnya. Fikiri bocah botak ingusan, sudah sedari tadi celananya basah, ia ketakutan hingga tanpa sadar mengeluarkan air seninya di celana, kakinya bergetar, giginya gemeretak.

“Eh lu, botak! Sini!” tunjuk pria berwajah garng itu pada Fikri. Heru dan Ratih melirik ke arah Fikri. Bercampur rasa khawatit dengan pikiran “ayo dong kri, biar selamet”. Bingung, terdiam sesaat. “Eh, botak! Lu budek ya, cepet sini!”

Fikri ambruk, pingsan.

Nafasnya berpacu, menderu. Jantung berdegup kencang. Belum pernah ia merasakan setegang ini. Mengigit-gigit kukunya,cemas. Ria bingung harus melakukan apa. Ia lalu memutuskan untuk menagmbil diarinya, membuka lalu mulai menulis.

Sabtu, 4 April 2008
GAWAT! Kawan! Kita harus melakukan sesuatu. Tapi apa? Kau tahu?
Jangan! Aku rasa polisi tak akan percaya padaku dan lagi bicara pun aku tak jelas. Lalu apa? Bunda masih dikantor, aku tak mungkin bisa meneleponnya. Bunda kan sibuk. Om Sam? Ah! Aku lupa, hari ini Bunda dan Om Sam pergi ke Jogja untuk urusan bisnis.
Bi Inah! Kau benar. Kenapa aku begitu bodoh! Terima kasih ya temanku sayang..ayo!

Ditutup buku merah jambu itu, dipeluknya. Ia lalu bergegas keluar kamar, memutar roda kursinya sekuat tenaga, cepat, ke arah pintu di seberang pintu kamarnya.

Sambil berdendang kecil sesekali bersiul, Inah menyeterika pakaian-pakaian yang menumpuk. Satu persatu, helai demi helai, dengan cekatan ia menyeterika pakaian-pakain itu denagn rapi. Ia sudah biasa. Sudah 20 tahun berprofesi sebagai pembantu rumah tangga dan hampir setengah dari perjalanan karirnya ia habiskan di rumah minimalis namun besar milik keluarga Hargo. Rumah Ria dan ibundanya. Ia telah megasuh Ria sedari kecil. Menjaganya, memandikannya, menyuapinya, menjadi teman bermainnya, kadang ia juga menemaninya tidur, menjadi ibu, kakak, saudara dan pembantu bagi Ria. Ia menyayangi anak itu dengan segenap hatinya.

Suasana menyeterikalah yang paling ia senangi. Karena tidak membutuhkan terlalu banyak tenaga, ia bisa sesambil beristirahat, berdendang ringan, kadang menyanyi. Suasana itulah yang ia nikmati sekarang. Meyeterika, di akhir minggu, di sore hari tenang.

Tersentak, suasana ketenangan yang menyelimuti Inah tercabik. Kaget, reflek, ia lalu mengusap-usap dadanya. Entah sejak kapan setrika yang tadi ia genggam di tangannya tadi, sekarang berada di pojok ruang sempit tempatnya terduduk. Sebuah suara teriakan seorang gadis kecil mengagetkan Inah. Memecah ketenangannya. “Bi..bi Inah! Bi!” suara itu semakin dekat, dan sekarang ia menduga suara itu berasal tepat di depan pintunya. Lalu, dengan sigap ia segera beranjak untuk membuka pintu tersebut.

Belum sempat Ria mengetuk mengetuk pintu kamar Bi Inah pintu itu sudah lebih dulu terbuka, dibuka dalam.

“Kenapa sayang? Ada apa?” melihat wajah Ria yang begitu panik, dengan naluri keibuannya Bi Inah lalu menunduk dan mendekap Ria, mengusap-usap punggungnya “cup..cup..Ria panik sekali, kenapa nak?” katanya lembut.

Ria tak menjawab. Bi Inah melepaskan dekapannya karena mendapat isyarat dari gerak tubuh Ria. Merasa jarinya dipegang dan ditarik, ia pun mengikuti saat Ria menarik dirinya ke arah kamarnya. “Buru-buru sekali nak? Kenapa sih?” tanyanya pada Ria. Ia tetap tak bersuara, mungkin karena sudah terlalu panik, ia tak sanggup bersuara. Ia memeluk diarinya erat dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya, dengan jari-jari mungilnya, mengenggam telunjuk Bi Inah. Melihat hal itu, Bi Inah memutuskan untuk tak bertanya lagi, diikutinya Ria dengan hati yang was-was. Ia takut jika sesuatu yang buruk terjadi pada Ria.

Bruak! Ria membuak pintu kamarnya dengan kasar. “Bi!” ditunjuknya arah jendela besar di kamarnya kepada Bi Inah dan melepaskan genggaman tangannya pada jari telunjuk wanita itu. Dengan detak jantung yang kian lama kian cepat, hati-hati Bi Inah melangkah ke arah tempat yang ditunjuk oleh Ria. Mengintip dari pinggir bingkai kiri jendela, takut-takut terjadi sesuatu. Jujur saja, ia mencium bau ketidakberesan dari luar sana, ditambah lagi ketika dilihatnya wajah Ria semakin cemas dan semakin mendekap diarinya erat. “Apakah masih kurang alasan untuk aku, untuk khawatir?” gumamnya dalam hati.

“Argh! Anak sial!” jerit lelaki bertubuh besar. Ia merasakan sakit di tangannya, tiba-tiba saja. Lalu ia terduduk sambil memegangi tangan kanannya dengan tangan kirinya. Dengan sigap Ari meloloskan diri dari cengkraman lelaki itu. Ia lalu menarik tangan kanan Heru, menyentak, memberi isyarat padanya untuk berlari. Heru lalu melepas genggaman tangannya pada tangan Ratih, berinisiatif, medekat ke arah Fikri. Ratih mundur beberapa langkah. Tanpa perlu diisyarati lagi, Amir membantu Heru mengangkat tubuh Fikri. “Ugh, pesing” ujarnya dalam hati. Mereka lalu berlari sekencang-kencangnya menjauhi pria itu. Ratih mengikuti mereka. Berlari, kabur. Mereka berhasil meloloskan diri dari pria itu dalam waktu singkat. Waktu saat pria itu kesakitan karena digigt Ari. Hingga berdarah.

Heru yang memiliki tubuh paling besar dan dibandingkan Ari, Ratih, maupun Fikri, ia paling kuat, menggendong tubuh lemas Fikri. Dengan tangan kananya, Ari menggenggam tangan kiri Ratih seperti berlari menariknya, ia berlari tepat di sebelah Heru. Ratih paling belakang, ia sudah lelah, sambil tersengal ia berusaha menyamai tempo kedua teman larinya itu. Untung saja tangannya ditarik Ari, “Setidaknya membantu” pikirnya.

Mereka berlari menjauh dari lapangan, menjauh dari jarak pandang jendela kamar Ria, daimana Bi Inah sedang melihat kejadian itu, mengintip mereka yang berlari ketakutan dari pria berkaos hitam berbadan besar yang kini mulai berdiri lagi, setelah sedari tadi terlihat terduduk memegangi tangannya, kesakitan.

“Gimana bi ?” tanya Ria pada Bi Inah, yang ia lihat keningnya mengerinyit.

“ Kita telpon polisi nak.”

“ Fafi Bi…” jawab Ria tak jelas.

Tanpa perlu menunggu Ria melanjutkan bicaranya, Bi Inah lalu berkata “Biar bibi yang ngomong, sayang, tolong ambilin telponnya dong” dekapan Ria pada bukunya terlihat mulai mengendur. Segera ia memutar roda kursinya, bergerak ke arah telpon yang terletak di sebelah kasurnya, mengambilnya, lalu dengan gemetar menyerahkan telpon itu pada Bi Inah.

Tanpa menunggu lama, setelah menyambut telpon yang diberikan Ria, Bi Inah memencet-mencet tombol-tombol di gagang itu. Setelah menunggu sesaat, dengan perasaan tak sabar, akhirnya ia pun bersuara “Halo.”

“Kantor Polisi, ada yang bisa kami bantu?” jawab suara di seberang telpon, suaranya berat. Terdiam sesaat, “Halo?”

“Eh, eh, pak.. minta tolong pak..” jawab Bi Inah.

“Iya ibu? Dengan ibu siapa? Dimana? Ada yang bisa kami bantu ibu?”

“Jalan Manggis nomer 15 pak.. RT 5 RW 7.. sa, sa, saya lihat ada penjahat pak. To, tolong anak-anak itu pak, di halaman belakang rumah saya,” Bi Inah berbicara terbata, berkat tegang yang ia rasakan. Ia terus menatap jendela sedari tadi “eh pak! Pak..pak.. lari pak lari.. cepet pak tolong”

Ria mengamati Bi Inah, melihatnya, ia ingin membantunya. Tapi, ia tak bisa. Ditatapnya diarinya, menatapnya dalam-dalam. Tanpa ia sadari, sampul buku itu perlahan-lahan basah, sesuatu dari atas menimpa buku itu. Air mata Ria. Dibelainya sang-diari-tersayang, ditatapnya kembali Bi Inah yang kini masih sibuk dengan gagang telpon. Berbicara.

Mengharap, Ria teringat tentang bintang dan matahari. Termenung sesaat, lalu menatap diarinya, lalu menatap kembali wanita yang menjadi pembantu, saudara, kakak, dan ibu baginya. Pipinya lalu basah, berlinang perlahan tapi pasti, air matanya. Tangan mungilnya meraba jeruji-jeruji roda kursinya. “Iya pak! Makasih! Terima kasih!” suara itu menyentak, membuyarkan harapnya. Bintang. Matahari.

Bi Inah berjalan cepat ke arah Ria yang duduk di atas kursi rodanya.

Ria melihat Bi Inah datang ke arahnya, ia melihat bibir Bi Inah membuka dan menutup, kerut-kerut keningnya timbul tampak, menengok ke arah belakang, ke jendela, lalu ke depan kembali menatapnya. Dan terus berjalan ke arahnya. Tanpa suara.

Pandangan Ria kabur, lembab. Ia tak mendengar apa-apa, semua seperti berjalan lambat, Bi Inah terlihat hanya bergerak. Di tatapnya lagi buku diarinya, yang kini dipangkunya.

Dan di tempat lain,mereka berlari.

Di tempat lain, ia mengejar.

Di tempat lain, mereka bergegas.

Di tempat ini, Ria terduduk tak bersuara tak berkata.

Di tempat ini, seorang wanita, cemas.

Sabtu, 4 Mei 2008
Bintang. Kau ingat, kawan? Hari dimana aku bicara tentang bintang? Tentang terkadang aku menenerawang ke langit, aku iri pada bintang-bintang, aku iri pada matahari.
Bintang kecil dan Matahari, aku mulai menyukai mereka, tak lagi iri, aku mulai berpikir untuk menjadikan mereka sahabatku. Biarlah langit, jauh. Daripada tidak?
Bintang mungkin bisa menjadi teman yang baik. Matahari pun. Mereka akan selalu melihatku, bergantian. Aku tahu teman-yang-selalu-ada-menemaniku sayang, lewatnya, mereka, aku bisa melihat dunia. Coba kau pikir, semua orang melihat mereka bukan? Semua orang menjadi sahabat mereka bukan? Walau, orang-orang tak semua menganggap mereka sebagai sahabat. Apa sih sahabat itu?
Bagiku sahabat adalah kau, Bi Inah, Bunda, Ayah yang jauh, jendela besar di rumah, dan kursi roda ini. Bagaimana? Baiklah.. bintang dan matahari juga. Ya, kau benar, kita bisa menjadi sahabat baik. Kau,aku,bintang, dan matahari.
Aku..

Bruak! Ria terhenti menulis, terkagetkan oleh suara hemapasan pintu. Disusul teriakan, ramai, gaduh. Menerobos pintu kecil kamar VIP Ria. Berlari berlelahan, saling menyusul sejak dari koridor panjang. Koridor panjang berpilar banyak. Rumah sakit. Rumah Ria sekarang.

Empat orang anak. Seorang anak perempuan beserta tiga orang temannya. Heboh, tertawa, bersusul mencapai kursi Ria.

“Ria…” sapa Ratih, gadis berambut pendek. “kamu lagi ngapain? Masih sakit gak? Wah..kita
pulang sekolah langsung kesini loh…makanya masih pada pakai seragam gini, hahaha.. main kartu lagi yuk Ria…”

“Wah..udah baikan ya bos?” tanya Ari, anak laki-laki berbadan tegap, berkulit gelap.

“Nih buah..maap ya cu cu man mang mangga ma belim bi bing” kata Fikri, bocah laki-laki kurus, berambut ikal tergagap.

“Kalian ini gimana sih.. satu-satu dong..ngomongnya…” susul Heru, yang walau masih anak-anak terlihat seperti remaja SMA.

“Huuu Heru sok ngatur ah..” timpal Ratih sembati menjulurkan lidahnya.

“Dasar nenek cerewet!” balas Heru

Ria tersenyum. Mereka tertawa. Ria lalu melanjutkan tulisannya

Aku..Kau,aku,bintang, dan matahari. Kau diariku, sahabat pertamaku yang paling setia. Bintang adalah Ratih, Heru, Ari, dan Fikri. Kecil berkelip, indah. Matahari adalah Bunda dan Bi Inah.
Bintang dan matahari tak lagi jauh. Tak lagi di langit. Biarlah.
Aku bahagia.

“Ria mau belimbingnya gak nih? Tak habisin lo….hahaha” kata Ratih. Kontan Heru, dan Fikri berlari ke arah Ria. “Udah ah nulisnya, nanti lagi, kan ada kami…bintang, hehehe” Ari berkata sambil tersenyum lalu segera ke arah belakang Ria, menggenggam gagang di kursi rodanya lalu memutarnya, mendorong kursi ke arah tawa. Ke arah kerlipan cahaya. Bintang. Sahabat.

Minggu, 5 Mei 2008
Aku bahagia juga hari ini. Seperti biasa.
Syukur ya, hari itu, pria berbaju gelap itu tertangkap. Untung ada kamu, teman-paling-baikku sayang. Juga Bi Inah.
Senangnya memliki bintang. Hangatnya cahaya matahari. Aku kini lebih percaya diri. Aku mampu melakukan yang mereka lakukan, keterbatasanku bagai langit, bukan batasan. Karena bintang pun sudah kugapai.
Semoga ini bisa berlangsung selamanya.
Semoga Bunda bisa lebih punya waktu di rumah ya.. Bantu aku berdoa, oke?


Ria yang kini telah melewati langit.